Bandar Lampung, – Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Lampung, Ahmad Novriwan mengatakan, di tengah pesatnya perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini semakin mudah diakses berbagai kalangan, muncul pengingat penting, yaitu seberapa canggih pun alat bantu teknologi, ide asli yang lahir dari pemikiran, pengalaman, dan hati manusia tetap memiliki nilai yang tak tergantikan.
“Jangan biarkan otak anda beristirahat. Ide yang sederhana tetapi lahir dari pemikiran sendiri, jauh lebih berharga daripada sesuatu yang dihasilkan oleh AI,” demikian pesan Ketua JMSI Provinsi Lampung, Novriwan sapaan akrabnya, Rabu 29 Juli 2026.
Pernyataan itu disampaikannya, saat memaparkan hasil pengalaman kunjungannya ke Republik Rakyat Tiongkok, tepatnya di wilayah Kunming, Pu’er, hingga Xishuangbanna. Dalam paparannya, Novriwan mengungkapkan, bahwa keberhasilan daerah-daerah tersebut mengembangkan sektor pariwisata dengan pesat tidak lepas dari kemampuan masyarakat dan pemerintah setempat dalam menjaga, merawat, serta mengangkat nilai-nilai budaya lokal sebagai daya tarik utama yang khas.
Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti nyata, bahwa gagasan yang tumbuh dari akar budaya dan pemikiran mandiri adalah kunci kemajuan yang tidak bisa sekadar digantikan atau disalin dari hasil kecerdasan buatan semata,” ujarnya.
Novriwan menegaskan, teknologi AI memang mampu menyajikan tulisan, gagasan, hingga karya dalam waktu yang sangat singkat. Namun, hasil yang dihasilkan pada dasarnya merupakan rangkuman atau gabungan dari data yang sudah ada sebelumnya.
Berbeda dengan ide asli manusia yang lahir dari pengamatan mendalam, perenungan, pengalaman pribadi, hingga nilai-nilai dan perasaan yang dimiliki. Ide semacam ini membawa keunikan, jiwa, dan sudut pandang yang belum pernah ada sebelumnya.
“AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti daya cipta manusia. “Ia bisa membantu merapikan kata, mencari data, atau memberikan gambaran awal, namun semangat dan orisinalitas hanya bisa tumbuh dari dalam diri manusia,” ungkapnya.
Mengandalkan sepenuhnya pada hasil buatan AI justru dikhawatirkan akan menumpulkan kemampuan berpikir kritis, menurunkan daya imajinasi, serta memudarkan ciri khas diri masing-masing. Oleh karena itu, teknologi hendaknya dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung, bukan meniadakan, proses penemuan gagasan asli.
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya pelajar, penulis, dan pekerja kreatif untuk terus melatih kemampuan berpikir dan berkreasi. “Jangan malas berpikir karena terbiasa meminta jawaban pada mesin.
“Karya yang lahir dari ide sendiri, meski sederhana, jauh lebih berharga dan membanggakan dibanding karya yang sempurna namun tidak memiliki jiwa karena hanya disusun oleh kecerdasan buatan,” tutup Novriwan. (Red)
