Texas AS suntik mati pembunuh polisi

Texas AS suntik mati pembunuh polisiRobert Mitchell Jennings (61 (theforgivenessfoundation.org)

RAKYATNEWS.CO.ID – Negara bagian Texas pada Rabu mengeksekusi seorang pria yang dihukum karena menembak mati seorang polisi Houston dalam perampokan yang gagal di toko buku khusus orang dewasa tahun 1988, menurut kantor Departemen Kehakiman.

Robert Mitchell Jennings (61) dinyatakan meninggal akibat suntikan mati pada pukul 6.33 sore waktu setempat, di penjara Huntsville, kata lembaga tersebut.

Dia menjadi orang pertama yang menjalani hukuman mati pada tahun ini di Texas yang pada 2018 telah melaksanakan hukuman mati bagi 13 terpidana, jumlah terbanyak dibandingkan negara-negara bagian yang lain.

"Bagi teman-teman dan keluargaku, ini adalah perjalanan yang indah," demikian kata-kata terakhir Jennings, menurut lembaga keadilan tersebut.

"Bagi keluarga dari petugas polisi, semoga anda mendapat kedamaian, baik-baik dan aman, nikmatilah kehidupan karena kita tidak akan bisa mendapatkannya kembali."

Jennings dijatuhi hukuman mati pada Juli 1988, karena membunuh Elston Howard (24) wakil perwira polisi di kota Houston, dalam perampokan yang gagal di sebuah toko buku khusus untuk orang dewasa, menurut penjelasan pihak penjara.

Pada saat kejadian Jennings sedang dalam pembebasan bersayarat setelah menjalani hukuman selama 10 tahun penjara dari 30 tahun masa hukumannya untuk kasus perampokan yang lain.

Howard sedang berada di toko boku untuk menahan seorang pegawai yang mempertunjukkan film tanpa izin, menurut catatan penjara dan Houston Cronicle.

Jennings menembak Howard dua kali dan masih memberi tembakan ketiga saat Howard sudah terjatuh di lantai.

Rekannya, Robert Harvell mengemudi mobil di pintu keluar, pada saat Jennings masuk ke mobil dan mengatakan sudah menembak seorang "petugas keamanan", Harvell memintanya keluar, tetapi Jennings menolak sehingga Harvell menembak tangannya, menurut catatan petugas.

Baca Juga :  Turki kembali perintahkan penangkapan 100 tentara

Polisi menangkap Jennings di sebuah rumah sakit saat dia berobat untuk lukanya. Harvell ditangkap di rumah ibunya dan kemudian dihukum 55 tahun penjara.

Yayasan Pengampunan, suatu kelompok anti-hukuman mati, mendesak pemerintah untuk menyelamatkan nyawa Jennings, dengan menulis di laman mereka "Tidak ada yang kekal, pengaruh baik orang dewasa." Sebagai anak laki-laki dia mengonsumsi obat terlarang pada umur yang belia dan masuk ke rumah anak nakal pada umur 10 tahun.

Suatu sidang banding federal awal pekan ini menolak permohonan menjauhkan hukuman mati dengan alasan Jenning kurang memiliki tanggungjawab hukum yang memadai, dan harus bertanggungjawab penuh atas kasus ini.

Sebanyak 25 orang dihukum mati di AS pada tahun lalu, menurut lembaga nirlaba Pusat Informasi Hukuman mati.

Sumber: Kantor Berita Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *