RAKYATNEWS.CO.ID, METRO – Pemerintah Kota (Pemkot) Metro resmi meluncurkan program PILAH BERKAH (Pilah Sampah, Sekolah Berkah) di TK Negeri 2 Metro Utara, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Metro Utara, Senin (12/10/2026).
Program yang digagas Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana tersebut menjadi langkah konkret membangun kesadaran lingkungan sekaligus menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak usia dini.

Peluncuran tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui lingkungan pendidikan. Melalui PILAH BERKAH, para pelajar diperkenalkan pada kebiasaan sederhana yang memiliki dampak besar, yakni memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan, serta memahami bahwa sampah yang dikelola dengan benar masih memiliki nilai ekonomi.
Program ini dirancang menjangkau 75 sekolah negeri di bawah naungan Pemkot Metro, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP). Pemerintah menargetkan kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara bertahap dengan mengupayakan kunjungan ke satu sekolah setiap hari. Apabila terdapat sejumlah sekolah yang lokasinya berdekatan, pelaksanaan kegiatan dapat disesuaikan agar lebih efektif dan efisien.
Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, mengatakan bahwa tujuan utama PILAH BERKAH adalah membangun mentalitas peduli lingkungan sejak anak-anak masih berada pada usia dini.
Menurutnya, pendidikan mengenai pengelolaan sampah tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di ruang kelas, tetapi perlu dibiasakan melalui tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten di sekolah maupun di rumah.
“Yang pertama, targetnya agar bisa menanamkan budaya memilah dan memproses sampah sejak masih kecil sekali. Yang kedua, jelas kita ingin sekali mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPAS Karangrejo dan mengurangi sampah yang beredar di lingkungan,” kata dia saat diwawancarai awak media, Senin (12/10/2026).
Rafieq menjelaskan, persoalan sampah membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas kebersihan maupun pemerintah.
Karena itu, sekolah dinilai memiliki posisi strategis untuk membentuk generasi yang memahami pentingnya menjaga kebersihan, mengurangi sampah, serta bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.
Lebih jauh, program tersebut juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular kepada pelajar melalui aktivitas sederhana yang mudah dipahami. Sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, kardus, dan kaleng yang masih dapat didaur ulang dikumpulkan untuk dipilah, ditimbang, kemudian disetorkan kepada bank sampah. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga mengenal proses pemanfaatan kembali barang yang selama ini kerap dianggap tidak berguna.
“Dengan mengenalkan bank sampah, anak-anak jadi tahu bahwa sampah itu masih bernilai rupiah. Sehingga ke depannya mereka dapat semangat dan rajin ke bank sampah untuk menyetorkan sampah di rumah maupun lingkungan sekitarnya,” ucapnya.
Pemilihan TK Negeri 2 Metro Utara sebagai lokasi peluncuran perdana juga memiliki alasan tersendiri. Kelurahan Karangrejo merupakan lokasi Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) yang menjadi salah satu pusat penanganan sampah Kota Metro. Kondisi tersebut membuat kawasan Karangrejo memiliki keterkaitan langsung dengan persoalan sampah perkotaan, termasuk dampak yang dirasakan masyarakat di sekitar lokasi.
“Kenapa TK Negeri 2 Metro Utara menjadi lokasi peluncuran perdana? Karena di Kelurahan Karangrejo terdapat TPAS yang menjadi pusat sampah kita di Kota Metro. Sehingga, Kelurahan Karangrejo menjadi prioritas kita karena masyarakat di wilayah ini turut terdampak penumpukan sampah Kota Metro,” ungkapnya.
Menurut Rafieq, keberadaan TPAS tidak boleh membuat persoalan sampah hanya dipandang sebagai urusan pengangkutan dan penumpukan di tempat pemrosesan akhir.
Pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya, termasuk rumah tangga dan sekolah. Semakin banyak sampah yang dipilah dan dimanfaatkan kembali, semakin besar pula peluang mengurangi sampah anorganik yang berakhir di TPAS, meskipun upaya tersebut tetap perlu didukung pengelolaan sampah yang menyeluruh.
Untuk tahap awal, Pemkot Metro akan memprioritaskan pelaksanaan program di 75 sekolah negeri yang berada di bawah kewenangan pemerintah kota. Rafieq menyebutkan, pihaknya akan mengupayakan kunjungan satu sekolah dalam sehari, dengan kemungkinan menggabungkan kegiatan di beberapa sekolah apabila lokasinya berdekatan.
Langkah tersebut diharapkan mempercepat pemerataan edukasi sekaligus membangun gerakan bersama di lingkungan pendidikan.
“Untuk langkah pertama ini, Pemerintah Kota Metro akan menuntaskan sekolah negeri di bawah Pemkot Metro, baik TK, SD, maupun SMP, sebanyak 75 sekolah.
Kami akan mengusahakan kunjungan satu sekolah sehari. Namun, jika ada sekolah yang berdekatan, seperti di Metro Pusat, mungkin bisa kita jadikan satu,” jelas Rafieq.
Kepala TK Negeri 2 Metro Utara, Herni Wildayani, menyambut positif penunjukan sekolahnya sebagai lokasi peluncuran perdana PILAH BERKAH. Ia menilai program tersebut memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar mencintai lingkungan melalui praktik langsung, sekaligus memahami konsekuensi dari kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Menurutnya, pembentukan karakter peduli lingkungan perlu dimulai sejak dini agar menjadi kebiasaan yang terbawa hingga mereka dewasa.
“Kami sangat tersanjung karena sekolah kami menjadi lokasi peluncuran perdana program PILAH BERKAH. Program ini sangat berguna bagi anak-anak kami karena dapat menanamkan karakter mencintai lingkungan dan membuat mereka mengetahui dampak ketika sampah dibuang sembarangan,” tutur Herni.

Antusiasme para siswa selama kegiatan berlangsung menjadi salah satu dorongan bagi pihak sekolah untuk melanjutkan program tersebut dalam aktivitas pendidikan sehari-hari. Herni mengatakan, pihaknya tidak ingin PILAH BERKAH berhenti pada kegiatan peluncuran, tetapi berupaya menjadikannya sebagai kebiasaan bersama yang melibatkan anak-anak dan orang tua melalui pengumpulan sampah dari rumah masing-masing.
Bahkan, pihak sekolah berencana mengembangkan kegiatan tersebut melalui program Jumat Berkah. Dalam kegiatan itu, anak-anak akan membawa sampah anorganik dari rumah untuk dikumpulkan dan ditimbang bersama.
Hasil penjualannya direncanakan didonasikan kepada teman yang membutuhkan maupun masyarakat di lingkungan sekitar. Skema ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian sosial, semangat berbagi, serta pemahaman bahwa tindakan kecil dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
“Program ini tidak hanya untuk menghasilkan uang. Nantinya, ada program Jumat Berkah, anak-anak membawa sampah dari rumah, kemudian kita timbang bersama. Hasilnya akan kita donasikan kepada anak atau teman yang kurang mampu ataupun lingkungan sekitar,” tandas Herni.
PILAH BERKAH juga sejalan dengan tiga tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, serta SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.
Melalui gerakan ini, Pemkot Metro berupaya menghubungkan pendidikan karakter, kepedulian sosial, dan pengelolaan sampah dalam satu kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sela pelaksanaan program, Rafieq turut meninjau kondisi fasilitas sekolah untuk mengidentifikasi kebutuhan perbaikan yang mendesak.
Redaksi: Sonny








