Foto : Wakil Walikota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana saat memberikan edukasi pemanfaatan sampah ke ratusan pelajar SDN 6 Metro Utara. (Ist)
RAKYATNEWS.CO.ID, METRO – Sampah yang terus menumpuk dan kebiasaan membuang limbah tanpa memilah menjadi tantangan serius dalam pengelolaan lingkungan. Persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan mengandalkan petugas kebersihan dan armada pengangkut, tetapi membutuhkan perubahan perilaku masyarakat sejak dari sumbernya.
Menjawab tantangan tersebut, Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, menggerakkan program PILAH BERKAH (Pilah Sampah, Sekolah Berkah) dengan menyasar 294 pelajar SD Negeri 6 Metro Utara, Selasa (13/10/2026).
Kehadiran Rafieq disambut antusias oleh para pelajar, guru, komite sekolah, dan wali murid. Melalui program ini, Pemerintah Kota Metro berupaya menanamkan kesadaran bahwa sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di sekolah maupun di rumah.
Gerakan tersebut turut melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Metro dan bekerja sama dengan bank sampah di wilayah Karangrejo, Metro Utara. Kolaborasi ini diharapkan menjadi penghubung antara edukasi lingkungan dengan praktik pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan, pengumpulan, hingga penyaluran material yang masih memiliki nilai ekonomi.
Kepala SDN 6 Metro Utara, Felix Apri Cahyo, menyambut baik pelaksanaan PILAH BERKAH di sekolahnya. Ia mengapresiasi langkah Wakil Wali Kota yang turun langsung memberikan edukasi kepada para pelajar.
“Keterlibatan pemerintah dalam pendidikan lingkungan dapat membantu peserta didik memahami pentingnya menjaga kebersihan melalui praktik nyata. Ini merupakan pembentukan karakter peduli lingkungan yang harus dimulai sejak usia dini,” ucapnya.
Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan ruang belajar, dan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya perlu diterapkan secara konsisten agar tidak berhenti sebagai pengetahuan yang hanya dipelajari di dalam kelas.
Sebanyak 294 pelajar SDN 6 Metro Utara mendapatkan edukasi mengenai pentingnya memilah sampah dan memanfaatkan material yang masih dapat digunakan kembali atau didaur ulang. Keterlibatan wali murid dalam kegiatan tersebut juga diharapkan memperluas penerapan kebiasaan ramah lingkungan hingga ke rumah, sehingga pendidikan pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.
Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, mengatakan PILAH BERKAH mengajak seluruh warga sekolah, mulai dari guru, pelajar hingga orang tua, untuk mengubah cara pandang terhadap sampah. Menurutnya, sebagian sampah yang selama ini dibuang begitu saja sebenarnya masih memiliki nilai jual apabila dipilah dan dikelola dengan benar.
“Saya hadir ke sini ingin mengajak seluruh warga sekolah, mulai dari para guru, pelajar maupun orang tua, untuk belajar mengumpulkan sampah yang memiliki nilai. Sampah itu kemudian diserahkan kepada bank sampah untuk ditimbang sesuai jenisnya, lalu warga sekolah mendapatkan uang dari hasil penjualan tersebut,” ucap Rafieq.
Ia menjelaskan, hasil penjualan sampah dapat dikumpulkan sedikit demi sedikit dan ditabung. Apabila dikelola secara rutin dan transparan, dana tersebut berpotensi membantu memenuhi kebutuhan kegiatan sekolah yang disepakati bersama. Dengan demikian, pelajar tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga mengenal nilai ekonomi, kedisiplinan, dan pengelolaan uang sejak dini.
“Bayangkan, sampah yang kita lihat terjatuh di lingkungan ternyata masih memiliki nilai. Ketika banyak orang merasa jijik melihat sampah, seharusnya kita berpikir untuk memungutnya dengan cara yang aman, kemudian memilah dan memasukkannya ke tempat yang sesuai atau menabungnya melalui bank sampah,” ujarnya.
Dalam penerapannya, pelajar perlu mengenali perbedaan sampah organik, anorganik, dan residu. Sisa buah serta sayuran, misalnya, dapat diolah menjadi kompos dengan metode yang tepat. Sementara itu, kertas, kardus, botol plastik, dan kaleng tertentu dapat dikumpulkan untuk disalurkan ke bank sampah atau fasilitas daur ulang. Adapun sampah residu harus dibuang melalui jalur pengelolaan yang sesuai, sedangkan benda berbahaya seperti baterai bocor, pecahan kaca, dan limbah medis tidak boleh ditangani sembarangan oleh anak-anak.
Rafieq menekankan, keberhasilan gerakan ini tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya sampah yang terkumpul atau uang yang dihasilkan. Perubahan kebiasaan menjadi tujuan mendasar yang harus dibangun. Ia juga menyatakan akan berkeliling ke sekolah-sekolah di Kota Metro untuk memperluas gerakan tersebut.
“Saya akan berkeliling langsung ke sekolah-sekolah supaya budaya membuang sampah pada tempatnya dan memanfaatkan sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat tertanam di benak para pelajar di Kota Metro sejak usia dini,” tegasnya.
Melalui PILAH BERKAH, Pemkot Metro mendorong sekolah mengambil langkah konkret dengan menyediakan tempat sampah terpilah, menjadwalkan pengumpulan secara rutin, menjalin kerja sama berkelanjutan dengan bank sampah, serta mencatat hasil penjualan secara transparan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan gerakan tersebut tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi benar-benar mengurangi sampah yang terbuang dan membentuk kebiasaan baru. Sebab, misi penyelamatan lingkungan tidak selesai ketika sampah dipungut, melainkan ketika setiap orang mulai mengurangi sampah, memilahnya dengan benar, dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkannya.
Redaksi: Sonny








