RAKYATNEWS.CO.ID, METRO– Sampah yang selama ini kerap dianggap sebagai barang tidak berguna kini mulai dilihat sebagai peluang untuk membangun ekonomi masyarakat. Melalui program “Pilah Sampah Menjadi Berkah”, Pemerintah Kota (Pemkot) Metro berupaya mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Program yang digagas melalui Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, tersebut mendapat apresiasi dari CEO Pesantren Bank Sampah Bahagia, Slamet Riyadi.
Menurut Slamet, langkah Pemkot Metro bukan sekadar mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menghadirkan pemberdayaan nyata dengan menggerakkan bank sampah sebagai bagian dari solusi persoalan lingkungan sekaligus penguatan ekonomi warga.
“Kami mengapresiasi Program Pilah Sampah Menjadi Berkah ini. Ini merupakan wujud kolaborasi konkret untuk memberdayakan bank sampah di tengah masyarakat sekaligus menyelesaikan persoalan sampah dari hulu,” ujar Slamet usai mengikuti kegiatan di TK Negeri 1 Metro Utara, Kamis (5/11/2026).
Ia menilai, keterlibatan pemerintah daerah menjadi kekuatan penting untuk menghidupkan kembali aktivitas bank sampah di tengah masyarakat. Sebab, keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas, tetapi membutuhkan kesadaran, kebiasaan, dan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
“Pilah Sampah Menjadi Berkah ini sebenarnya merupakan program yang memang kami tunggu-tunggu. Ini bentuk pemberdayaan konkret dari pemerintah,” ungkapnya.
Slamet juga menilai, keputusan Pemkot Metro menyasar lingkungan pendidikan merupakan langkah strategis untuk membangun perubahan dari generasi muda.
Menurutnya, anak-anak bukan hanya menjadi sasaran edukasi, tetapi juga dapat menjadi penggerak perubahan kebiasaan di lingkungan keluarga. Ketika anak terbiasa memilah sampah di sekolah, kebiasaan tersebut diharapkan terbawa hingga ke rumah dan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak ini merupakan bagian dari hulu. Karena edukasi dilakukan sejak dini, mereka bisa terbiasa memilah sampah. Kemudian, sekolah juga dapat berkolaborasi dengan bank sampah di sekitarnya, sehingga keberadaan bank sampah bisa semakin hidup dan berkembang,” jelasnya.
Lebih jauh, Slamet mengungkapkan bahwa Pesantren Bank Sampah Bahagia juga telah mengembangkan program tabungan sampah bagi masyarakat. Melalui program tersebut, setiap nasabah memiliki rekening pribadi untuk mencatat nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan dan disetorkan.
Bahkan, pihaknya menghadirkan motivasi tambahan melalui program penghargaan berupa kesempatan berangkat umrah yang bersumber dari akumulasi nilai tabungan sampah nasabah.
“Jadi, kami memiliki program dari bank sampah, salah satunya program umrah. Sampah yang dikumpulkan dan diakumulasikan bisa menjadi nilai tabungan yang nantinya dimanfaatkan untuk memberangkatkan nasabah umrah,” paparnya.
Program tersebut menjadi bukti bahwa sampah tidak selamanya harus berakhir sebagai limbah yang mencemari lingkungan. Jika dipilah dan dikelola dengan baik, sampah justru dapat memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Slamet berharap, semangat yang dibangun Pemkot Metro melalui program tersebut dapat semakin luas menjangkau masyarakat, mulai dari lingkungan sekolah, keluarga, hingga komunitas di setiap kelurahan.
“Harapan kami, melalui program ini semakin banyak masyarakat yang memiliki kepedulian untuk memilah dan menabung sampah. Karena sampah bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik,” tambahnya.
Ia menyebutkan, hingga saat ini sebanyak 35 orang telah bergabung sebagai nasabah dan memiliki rekening tabungan sampah. Dalam pengembangannya, Pesantren Bank Sampah Bahagia juga telah menjalin kerja sama dengan Bank Negara Indonesia (BNI).
“Untuk saat ini, yang sudah membuat rekening sebanyak 35 orang. Kami juga bekerja sama dengan BNI,” pungkas Slamet.
Melalui program *Pilah Sampah Menjadi Berkah*, Pemkot Metro diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pengelola bank sampah, sekolah, dan masyarakat.
Lebih dari sekadar mengurangi timbunan sampah, langkah ini menjadi investasi sosial dan lingkungan bagi masa depan Kota Metro. Sebab, perubahan besar tidak selalu dimulai dari hal yang besar, tetapi bisa berawal dari kebiasaan sederhana: memilah sampah, menjaga kebersihan, dan mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi tabungan yang bermanfaat.
Dengan semangat tersebut, upaya mewujudkan Metro yang bersih, sehat, dan berdaya secara ekonomi dapat dimulai dari rumah dan ditanamkan sejak anak-anak masih duduk di bangku pendidikan usia dini. (*)








